Minggu, 22 April 2012

Antara Cinta, Benda Terbang Aneh & Psikedelia



Pameran, perilisan Supersonicloveisticated EP, mini konser,
kolaborasi, diskusi & pesta perpisahan 70’s Orgasm Club




27, 28 & 29 April 2012

Lou Belle shop, Jl Dr. Setiabudi 56 Bandung



PRESS RELEASE

Mini album Supersonicloveisticated EP ini adalah rilisan pertama selama 8 tahun band ini terbentuk. EP ini merupakan intro untuk album penuh yang akan dikeluarkan akhir tahun ini. Dari rencana awal mengeluarkan album penuh dengan total 12 lagu yang sudah direkam, akhirnya diputuskan untuk merilis mini album dahulu.
4 lagu plus satu lagu versi akustik (khusus yang dibuat untuk mini album) termuat dalam EP ini. Tiga lagu sudah pernah dirilis dalam beberapa kompilasi beberapa tahun yang lalu. Seperti Supersoniclovesiticated (kompilasi Ripple mag, 2004), Peppermint, Insect (L.A. Light Indiefest 2006) & Love Bus (kompilasi majalah Provoke! 2008). Plus dua lagu baru yang belum pernah dirilis: Libido Schizophrenia dan versi akustik Yellow Mellow, yang khusus direkam untuk EP ini (versi elektriknya akan ada dalam album penuh).

Perpisahan

Setelah menghilang selama beberapa tahun terakhir karena kesibukan dan dua dari mereka sudah berkeluarga, akhirnya diputuskan untuk dijalani oleh vokalis/gitaris/penulis lirik Anto Arief sendiri. Makanya perilisan album ini sekaligus penampilan terakhir 70s Orgasm Club dengan formasi lengkap. Ke depannya 70s Orgasm Club akan jalan dibantu oleh additional player.


Kolaborasi

Dari situ muncul ide untuk melebur perilisan Supersonicloveisticated EP ini menjadi projek seni terbaru Anto Arief, dengan kata kunci: merespon. Itulah mengapa mini album ini berkolaborasi dan dirilis oleh 34/7 Records di bawah bendera Unkl347, yang memiliki program kolaborasi dengan seniman & grup musik dengan nama “Friends Do It With Unkl”


Pameran & diskusi Antara Cinta Benda Terbang Aneh & Psikadelia 

Ide pameran berangkat dari foto benda terbang aneh bidikan Dimas Theodora dari atas pesawat. Dari situ muncul ide untuk merespon foto itu dengan menjadikan projek seni. Karena ia menemukan ada korelasi antara cinta (yang menjadi tema lirik), benda terbang aneh (UFO) & psikadelia. Tiga hal yang menjadi fenomena di tahun 70an. Selain itu ketiganya juga sangat berhubungan dengan kondisi psikologi seseorang. Dan di jaman modern seperti sekarang pun ke tiga hal itu masih merupakan misteri.


Pameran 3 hari ini akan menampilkan 10 artwork asli yang menjadi kover Supersonicloveisticated EP. Juga ada diskusi bertema “Antara Cinta, Benda Terbang Aneh & Psikadelia” yang menghadirkan psikolog Audifax, Fanfan Darmawan dari Beta UFO Indonesia, dan Rudi pemilik toko merchandise rock: Hard N Heavy. Selain pameran & diskusi akan setiap harinya akan ada penampilan dj dan band Nada Fiksi, The Triangle, Tulus & Hightime Rebellion yang merespon 70s Orgasm Club 


Rabu, 18 April 2012

Berkunjung ke Dunia Khayal Zeke Khaseli

Oleh: Raka Aji Saputra

Music Corner 2012 Universitas Negeri Jakarta

Oleh: Aria Adhitya



Shed Seven Tampil Maximum

Oleh: Rezky Agil




Sabtu, 31 Maret 2012 para penggemar Britpop memadati Venue Eldorado, Bandung, guna menyaksikan Shed Seven (UK). Acara yang  bertajuk Maximum Hits ini dibuka dengan penampilan dari The Triangle yang membawakan 6 lagu. Akhirnya pada pukul 9 malam, Shed Seven membuka penampilannya dengan lagu Dolphin. Hampir 18 lagu mereka bawakan termasuk hits-hits mereka seperti Going For Gold, Long Time Dead, Ocean Pie, Speakeasy, dan Bully Boy. Tidak jarang penonton yang hadir berlompat dan bersorak riuh ditengah penampilan. Kejutan terjadi ketika mereka meng-cover Panic, salah satu lagu dari The Smith yang mereka bawakan untuk menyambut kedatangan Morrissey ke Jakarta. Di akhir acara, Chasing Rainbows pun menjadi encore dari penampilan mereka dan membuat semua yang hadir di Eldorado bernyanyi, dan benar-benar terpuaskan dengan penampilan mereka pada malam itu.

Foto: Ardi Widja

SUM 41 "We Will Back For Sure"

Oleh: Aria Adhitya



The Iron Maidens “Screaming For Me Jakarta”







Black Rock Entertainment mendatangkan band asal Amerika Serikat, yaitu The Iron Maidens pada Kamis 5 April 2012 dan bertempat di Rolling Stone HQ. Band ini beranggotakan para rocker wanita, yaitu Kirsten Rosenberg a.k.a Bruce Chickicson (vokal), Nita Strauss a.k.a Mega Murray (gitar), Linda McDonald a.k.a Nikki McBurrain (drum), Wanda Ortiz a.k.a Steph Harris (bass), dan Courtney Cox a.k.a Adriana Smith (gitar) dan memainkan lagu-lagu dari band legendaris Iron Maiden. Jadi tidak heran jika para Troopers di Indonesia berbondong-bondong datang untuk melihat penampilan mereka. The Iron Maidens tidak hanya mengunjungi Jakarta, mereka juga melakukan Tour di kota lain seperti di  Liquid Longue & Cafe, Yogyakarta (6/3/2012), dan Boshe VVIP Longue, Bali (7/3/2012).
            Jakarta menjadi tempat pertama yang mereka sambangi. Dan ketika mereka sampai di Jakarta, dari bandara Soekarno Hatta sampai ke lokasi Press Confrence, sang vokalis Kirsten Rosenberg pun sangat takjub akan kemacetan di Ibukota. “Saya salut dan memuji akan kesabaran kalian di Jakarta”, ujarnya. Rolling Stone Venue sudah yang mulai dipenuhi oleh para Troopers dari wilayah sekitar Jakarta dan Bandung. Sekitar pukul 7 malam open gate sudah dibuka, dan diawali oleh penampilan band Heavy Metal Jakarta yaitu Oracle yang bermain pada pukul 8.20 malam. Mereka juga sempat meng-cover lagu-lagu dari Metallica. Tidak lama setelah penampilan dari Oracle, muncul-lah Courtney Cox yang mulai men-setting sound gitarnya dengan diiringi teriakan para Troopers di venue. Mereka  pun naik stage dan memulai dengan lagu “Aces High”, dan dilanjutkan dengan “2 Minutes To Midnight”. Troopers pun bernyanyi bersama. Banyak gimick-gimick yang ditampilkan di konser The Iron Maidens dan Kirsten sempat mengibarkan bendera UK dan juga bendera Indonesia. Sekitar 15 lagu dibawakan tanpa encore, sangat mempesona penampilan mereka dengan Kirsten yang selalu berteriak “ Screaming For Me Jakarta..!!”. Sekitar jam 11 mereka selesai menampilkan musik metal yang sempurna ini. Seperti Iron Maiden sungguhan dari semua kesamaan yang mereka mainkan, hanya beda tampilan saja. Namun sangat disayangkan saat terdengar teriakan dari para Troopers untuk memainkan lagu “Fear Of The Dark”, namun tidak dimainkan oleh The Iron Maidens. Tapi lunas dibayar dengan diadakannya meet and greet dengan para Troopers sekaligus sesi penjualan merchandise yang dibubuhi tanda tangan para personil. Dan pembeli merchandise pertama mendapatkan kejutan berupa hadiah gitar akustik dari Nita Strauss. Sebuah konser intim yang disambut dengan hangat.

Written and Photos by Raka Aji Saputra

Nuansa Indie Pop serta unsur New Wave bersama Architecture In Helsinki








Fairground, ex Bengkel Night Park Jakarta disambangi oleh band Indie Pop bernuansa Electric New Wave. Band asal negeri Kanguru ini membawa kembali suasana “Back to 80’s”. Cameron Bird, Gus Franklin, Jamie Mildren, Sam Perry, dan Kellie Sutherland menghentak dengan musik mereka pada 10 Maret 2012, dan opening act mereka kali ini adalah duo Electronic Experimental Music asal Bandung, Bootlesmoker. Open gate dimulai pada pukul 8 malam, dan tidak lama kemudian duet Nobie dan Angkuy mulai memanasi penonton dengan suara musik yang membuat kuping hingga seluruh bagian organ tubuh turut bergerak mengikuti alunan musik mereka dengan ciri khas Nobie Bottlesmoker yang sering memakai topi indian dan juga Angkuy dengan kostum astronotnya yang memukau para penonton saat itu. Penonton pun terheran-heran dengan alat-alat yang mereka mainkan dengan unique toys yang bisa dijadikan suara, apalagi dengan alat yang dibunyikan dengan sensor oleh cahaya. Sekitar 45-50 menit Bottlesmoker membuka konser ini dengan sangat pas sesuai dengan konsep AIH yang bernuansa Electro Indie Pop. 
Setting alat dan bunyi sound menjadi tanda bersiap-siap AIH untuk mengajak penonton untuk ber-Indie Pop malam itu. Kemudian semua personil pun satu-persatu naik ke stage. AIH pun tak banyak bicara dan langsung menggebrak dengan lagu “Desert Island” dari album Moment Bends. It’s really a great sound, dan konser mereka pun sangat excited karena tidak ada sedikitpun asap rokok di area Venue Stage. Yang membuat crowd semakin berteriak adalah ketika Cameron Bird, vocalist AIH yang hanya menggunakan kaos polos putih dan di masukan ke dalam celana panjangnya berkata “ We want to play the song "Escapee" from Moment Bends that featured in the football video game, FIFA 12”. Penonton pun langsung bernyanyi bersama tanpa disuruh oleh AIH. Sekitar 17 lagu dimainkan oleh mereka dengan sangat enerjik karena mereka memainkan instrumen maupun berdansa bersama dengan kompak. Yang menjadikan konser ini terasa seperti kembali ke tahun 80an adalah nuansa New Wave dari suara techno dan electric drum. “We will come back soon guys”, seperti biasa band-band yang bermain disini seringkali merasa puas dan merasa ingin sekali kembali ke Jakarta. Thanks Beyond Prod sudah mengajak mereka kesini ujar penonton di fairground ketika kita melihat timeline di twitter. Cheers...

Written by Raka Aji Saputra
Photos by Hery Suryanto

Selasa, 17 April 2012

Pameran Domestic Stuff





Sebuah kursi berdiri kokoh dan berkerangka remote bekas, berhasil menarik perhatian tersendiri bagi para pengunjung saat masuk ke dalam ruang galeri.  Dihadapannya sebuah televisi kain bergaya retro tetapi tidak berfungsi layaknya televisi asli, menempel kuat di ruas dinding. Di layarnya terdapat sebuah garis hitam berputar kian mengecil, seakan membuat para pengunjung yang melihat dibuat pusing oleh sebuah teks yang bertuliskan “Buzz”.  Pemandangan unik ini bukanlah ruangan pribadi seseorang untuk menikmati  hiburan,  namun karya-karya seni tersebut merupakan salah satu bagian dari sebuah pameran seni rupa bertajuk “Domestic Stuff” yang diadakan di Galeri Salihara, Jakarta.

Kedua karya instalasi itu diciptakan oleh Maria Indria Sari dan Samuel Indratma, dalam menyikapi keresahan fenomena yang sedang terjadi. Menurut keterangan di dalam pengantar pameran, kedua perupa ini mendiskusikan acara-acara televisi yang membawa kekerasan dalam wilayah domestik kehidupan keluarga dan bagaimana cara mengendalikan pengaruhnya pada anak-anak. Kedua karya tersebut diberi judul “TV Satu Channel” dan “Kursi Remote Kontrol”.

 “Tantangan terbesar adalah membangun keseimbangan antara kehidupan domestik dan kehidupan sosial”, sebuah kutipan yang ditulis oleh Mie Cornoedus dan Setu Legintar sedikit menjelaskan kehidupan kedua seniman ini dalam menghadapi proses situasi domestik yang mirip, yaitu sama-sama memiliki keluarga baru dengan satu anak kecil (buah hati). Lewat sebuah karya instalasi dalam konteks visual, kedua seniman ini membuat sebuah film yang menyajikan visual tiga dimensional. Ruang, waktu dan tenaga. Karya ini diberi judul “Pusaran Jiwa”. Adapula karya fotografi, hasil potret Mie Cornoedus yang berjudul “Mencari Arah” dengan seorang ibu-ibu dan bayi mereka sebagai objek yang dicetak dengan kertas hahnemuehle.  

Pameran Domestic Stuff merupakan sebuah proyek mengenai wilayah domestik dan persoalan-persoalan yang kita hadapi di dalam kehidupan sehari-hari. Adapun para seniman lain yang ikut terlibat pameran diantaranya Ariani Darmawan, Ferdiansyah Thajib, Lydiawati, Amrizal Salayan St. Parpatih, Melati Suryadarmo, Afrizal Malna, Restu Ratnaningtyas, Agung Kurniawan, Sekarputri, dan Mufti “Amenk” Priyanka. Memaknai sudut pandang seni rupa yang terkait dengan wilayah domestik, ditampilkan dalam pameran yang berlangsung hingga 6  Mei mendatang.

Written : Dimaz Nugraha
Photo   : Putri Ayu
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More