Minggu, 22 Juli 2012
Sabtu, 21 Juli 2012
Jumat, 20 Juli 2012
Undangan Diskusi Berkala Indonesian Street Art Database --DISABILITAS, TERAPI SENI DAN KAITANNYA DENGAN STREET ART--
DISABILITAS, TERAPI SENI DAN KAITANNYA DENGAN STREET ART
“There’s so many laws out there, you know, especially here to the minorities, and we’re just fed up, you know, that’s just a way of getting out there and sayin’ forget you guys… Yeah I feel oppressed... Doing graffiti relieves some of that oppression. Going out there without people telling you what to do... There is not freedom of expression, there isn’t such a thing, there’s always someone out there that’s in control. So I guess it would be nice if we did have freedom of expression. So you know, graffiti allows us to do this. I’ll go out there and be free.”
-Asyl’m, a writer from California, in an interview captured on video (Graffiti Verite'2)
Pembicara 1 : Khairani Barokka
"Mengeksplorasi Terapi Seni dan Disabilitas dalam Street Art"
Pembicara 2 : Hanna Madness
"Skizofrenia Berbicara Dalam Setiap Karyaku"
Hari : Minggu, 22 Juli 2012
Jam : 15.00 - 17.00 WIB
Tempat : ISAD (Indonesian Street Art Database)
Jalan Bambu Ampel III, No. D 15 A
Komplek Paminda, Pasar Minggu
Jakarta Selatan
Tentang Pembicara :
Khairani Barokka adalah peneliti dan aktivis pendidikan seni inklusif, terapi seni, teknologi, dan jalur vokasi untuk seniman dengan segala abilitas, terutama di Asia, akan berbicara mengenai disabilitas dan terapi seni dalam street art, dan keterkaitan antara keduanya. seorang seniman street art, sebagaimana seniman pada umumnya, masih jarang yang berpikir bahwa yang berkarya sangat mungkin seseorang dengan disabilitas, baik fisik, mental, kognitif, sensorial, developmental, dsb. Bagaimanakah seniman street art dengan disabilitas melihat proses berkarya di dunia urban, dan bagaimanakah dunia urban merefleksikan ketidakramahan perkotaan kepada masyarakat dengan disabilitas? Bagaimanakah teknologi dapat digunakan untuk membangun urbanitas yang lebih inklusif terhadap masyarakat dengan berbagai tipe fisik dan pedalaman yang ingin berkarya dengan street art, dan apakah potensi menggunakannya di dunia "berkembang" secara khusus? Apakah itu terapi seni, gunanya bagi masalah kesehatan urban, termasuk masalah kesehatan mental dan fisik para penyandang disabilitas, dan hubungannya dengan street art?
Hanna Madness adalah seorang freelance designer dan sedang menggarap sebuah buku psikomemoar yang berisi perjuangan tentang fantasi, mimpi, seni , sex, drugs, ketidakwarasan, airmata, histeria, hingga tattoo yang pada akhirnya membawanya pada kenyataan bahwa dia mengidap schizofrenia paranoid diusia yang terbilang cukup muda. Hana akan berbagi pengalaman mengenai perjuangan menembus batas kenormalan yang penuh dengan keterbatasan, hingga menemukan persinggahan dalam sebuah objek seni dan tulisan dan bercerita tentang seniman-seniman khususnya di Indonesia yang memilih untuk mengakhiri hidup mereka karena fantasi dan keterbatasan yang mereka miliki. Serta riset yang menunjukkan bahwa bunuh diri lebih rentan terjadi di kalangan seniman. Hana kini sedang menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar Indonesia.
1. Graffiti Art Therapy
http://www.graffitiverite.com/graffitiartTherapy.htm
2. Film Graffiti Verite' 2 - Freedom of Expression?
http://www.youtube.com/watch?v=FKL345IkZHM
Indonesian Street Art Database
Jalan Bambu Ampel III, No. D 15 A
Komplek Paminda, Pasar Minggu
Jakarta Selatan
Kontak: 021-7800 035
Twitter : @I_S_A_D
Facebook : Isad Connexion
Terbuka untuk umum dan Gratis !!!
--
Indonesian Street Art Database
Kamis, 19 Juli 2012
Pameran TOP COLLECTION #3 A Photography Project 2012
ruangrupa
mempersembahkan
TOP COLLECTION #3
Seniman:
Agan Harahap (Jakarta), Nissal Nur Afryansah (Jakarta), Reza Afisina (Jakarta), Reza Mustar (Jakarta), The House is Black (Jakarta)
Kurator: Julia Sarisetiati
Pembukaan: Sabtu, 21 Juli 2012,pukul 19.30
RURU Gallery, Jl. Tebet Timur Dalam Raya no.6, Jakarta Selatan
Pameran: 21 Juli – 4 Agustus 2012 (kecuali hari Minggu) | 11.00 – 21.00 wib
Gratis!
TOP COLLECTION IS
Proyek ini merupakan kelanjutan dari proyek fotografi TOP COLLECTION yang dikerjakan ruangrupa pada 2004 dan 2006 lalu. Proyek ini bertujuan untuk melihat kembali budaya fotografi di masyarakat, yaitu bagaimana masyarakat menggunakan fotografi dalam kesehariannya, dan untuk melihat pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, serta lebih jauh lagi, untuk melihat makna dibalik sebuah karya foto dalam hubungannya dengan perkembangan budaya visual, modernitas,dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Pada TOP COLLECTION ketiga ini, ruangrupa mengundang seorang fotografer muda, Julia Sarisetiati, sebagai kurator. Julia Sarisetiati adalah salah satu seniman muda yang sering terlibat dalam berbagai proyek seni di ruangrupa dan intens bekerja dengan medium fotografi. Ia kemudian mengundang enam seniman muda untuk mengobservasi kembali posisi dan penggunaan medium fotografi pada era teknologi digital ini: ketika kamera adalah bagian dari organ vital perangkat komunikasi multifungsi seperti ponsel cerdas dan komputer, juga terhubung dengan ruang-ruang sosial yang virtual.
Perkembangan teknologi fotografi dan informasi sejauh ini telah menyebabkan terjadinya banyak perubahan dalam praktik fotografi di tengah masyarakat. Ketika medium ini menjadi semakin egaliter dan digunakan secara masif oleh siapapun untuk memproduksi berbagai citraan dan menyebarkannya secara bebas lewat jaringan media sosial, bagaimana kita bisa membaca pesan-pesan dan nilai-nilai yang ada dibalik praktik fotografi masa kini,adalah merupakan hal yang menarik untuk dipahami.
Secara khusus, Julia Sarisetiati menegaskan bahwa proyek ini adalah sebuah proyek fotografi yang fokus pada pola kerja riset. Proyek ini ingin melihat sejauh mana fotografi yang tersebar di ruang virtual, media cetak, dan koleksi foto pribadi dapat dibaca, juga menunjukkan bagaimana kerja pengarsipan dan identifikasi dapat menjembatani pembacaan dari foto-foto yang beredar, sehingga publik dapat memahami pembahasan yang dihadirkan dalam pameran ini sebagai bahan dasar pengetahuan tentang budaya visual.
Proyek ini merupakan sebuah kerja ekperimental ruangrupa, yaitu bagaimana seniman menggunakan fotografi sebagai strategi visual untuk mengenali masyarakat dan kehidupannya, dan bagaimana seniman menciptakan kesadaran visual melalui fotografi dan mempertanyakan kembali kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan oleh medium fotografi.Agan Harahap “berfoto” bersama para selebritis dan menyebarkannya di media sosial, Nissal Nur Afryansah melakukan riset atas perilaku penggunaan webcam di kalangan anak muda, Reza Afisina menggunakan fotografi sebagai dokumentasi untuk menampilkan karya seni performans, dan Reza Mustar, alias Azer mengumpulkan foto-foto “penampakan” dari dunia gaib yang banyak beredar di Internet, dan The House is Black mengkoleksi beragam kreasi rekayasa foto yang beredar di media sosial yang digunakan sebagai ekspresi politis masyarakat.
***
Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi www.ruangrupa.org dan follow kami di @ruangrupa. Kunjungi pula www.okvideofestival.org , www.jakarta32c.org , www.rrrec.ruangrupa.org , www.karbonjournal.org, www.jarakpandang.net dan gabung di grup Facebook ruangrupa.
ruangrupa
Tebet Timur Dalam Raya No.6
Jakarta Selatan 12820
Telp / Fax : +6221 8304220
www.ruangrupa.org
info@ruangrupa.org
Sabtu, 14 Juli 2012
Senin, 09 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)










