Minggu, 24 Juni 2012

Kampanye Anti Korupsi lewat Film Kita Vs Korupsi

Oleh: Aria Adhitya




           Kegiatan kampanye bisa dilakukan melalui segala jenis media yang digemari, apalagi jika sedang mengkampanyekan hal positif yang masih rendah frekuensinya pada media mainstream. Pasti sebagian orang akhir-akhir ini tidak asing dengan film berjudul "Kita vs Korupsi" yang bercerita tentang berbagai jenis praktek korupsi di negara ini. Film ini memang dibuat sebagai "racun positif" perlawanan anti korupsi untuk melahirkan generasi yang bersih dari segala praktek KKN dan telah ditayangkan di beberapa kota di Indonesia dan beberapa tempat di Jakarta, salah satunya di Universitas Trisakti, Jakarta Barat pada tanggal 13 Juni 2012. Acara yang diadakan di Auditorium Gedung E lantai 8 ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan 3 orang pembicara, yaitu Ibu Mardiani (Complience Manager Pertamina), Pandji Pragiwaksono (Provocative), dan Agus Sarwono (Transparency International Indonesia). Pemutaran film ini sendiri gratis dan dimeriahkan oleh Live Acoustic, Grup Paduan Suara dari Diploma IV Ilmu Keuangan Trisakti dan acara Talk Show dengan 3 pembicara yang didatangkan.
            KPK, Transparency International, USAID, bersama pihak-pihak lain yang terlibat dalam produksi film ini tidak ingin sekedar membuat film ala-kadarnya meskipun film ini tidak digarap untuk industri. Keseriusan mereka dalam proyek ini dibuktikan dengan berbagai peran yang dimainkan oleh para aktor dan aktris papan atas Tanah Air seperti Tora Sudiro, Ringgo Agus Rahman, Nicholas Saputra, Revalina S. Temat, dan Host program petualangan dari salah satu TV swasta, Medina Kamil. "Kita vs Korupsi" merupakan 4 film pendek yang dikemas dalam satu paket dengan berbagai judul dan cerita yang berbeda. Dan disutradarai oleh 4 sutradara berbeda, Ine Febriyanti, Chairun Nissa, Emil Heradi, dan Lasja F. Susatyo.
            Film ini menceritakan beberapa contoh praktek korupsi yang benar-benar dibuat selayaknya film. Diantaranya, Film pertama menggambarkan potret kebobrokan seorang Kepala Desa yang pada masa sebelum pemilihan mengobral janji layaknya calon pejabat normal lainnya, namun dia justru mengorbankan lahan warganya demi uang dari pemilik proyek. Disamping itu dia berselingkuh dan memanfaatkan penduduk yang mau disogok.
            Pada Film kedua diceritakan mengenai contoh korupsi atau penyogokan paling sederhana yang sering terjadi namun banyakorang tidak menyadari bahwa hal ini termasuk perbuatan korupsi. Ada sepasang kekasih yang ingin menikah namun terganjal persoalan administrasi, dan pegawai KUA secara terang-terangan bisa "membantu", namun pada akhirnya terjadi selisih paham antara kedua pasangan tersebut. Karena si pria yang diperankan oleh Nicholas Saputra ingin pernikahannya tidak tertunda, sementara si wanita yang diperankan oleh Revalina S. Temat tidak ingin pernikahannya tersentuh oleh praktek kotor.
            Film ketiga membawa pesan bahwa praktek korupsi telah terjadi sejak jaman dahulu. Ber-setting sekitar tahun 1970an, film ini bercerita tentang pegawai gudang beras yang tidak mau disogok oleh oknum pedagang beras lain yang ingin memanfaatkan gudang beras milik pemerintah untuk kepentingannya, padahal dia sangat membutuhkan uang karena anaknya sakit. Disamping itu dia juga sadar situasi, dimana banyak rakyat kelaparan saat persediaan beras masih mencukupi. Dan anak dari pegawai yang diperankan oleh Tora Sudiro ini ketika dewasa menjadi seorang wanita yang berkarir sukses dan mempunyai jiwa yang besar, mempunyai rasa peduli yang tinggi serta sangat membenci Korupsi.
           
Ada juga cerita tentang praktek korupsi di sekolah oleh guru yang mengeruk keuntungan dari penjualan buku pada film keempat. Tidak hanya itu, guru tersebut juga melibatkan muridnya dalam aksinya. Disisipi dengan adegan sehari-hari anak sekolah lainnya dan respon siswa-siswi akan ulah dari gurunya tersebut.
            Sebuah kabar bahagia dimana kampanye anti korupsi semakin kesini semakin menunjukkan kemajuan. Tidak hanya slogan, pidato atau cara lama lainnya, namun juga sudah mulai menyusup ke dunia hiburan, ke dunia anak muda, bahkan dibalik pembuatan film ini juga melibatkan pemuda-pemuda kita. Tapi semua ini tidak akan ada artinya tanpa respon estafet dari kita bukan?






Foto: Aria Adhitya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More